Makalah UTI

Posted on Januari 15, 2010. Filed under: Uncategorized |

A.  Pendahuluan

UTI merupakan istilah yang menunjukan keberadaan organisme dalam urine.

UTI umumnya dibagi dalam subkategori besar:

  1. Infeksi saluran kemih bagian atas

Yang menyangkut ginjal (pylonefritis) dan ureter:

  • Ø Pielonefritis akut (PNA). Pielonefritis  akut adalah inflamasi parenkim ginjal yang disebabkan parenkim bakteri.
  • Ø Pielinefritis kronik (PNK). Pielonefritis kronik mungkin akibat lanjutan dari bakteri berkepanjangan/infeksi masa kecil.
  1. Infeksi saluran kemih bagian bawah

Yang menyangkut kandung kemih (cystitis) dan uretra (urethritis).

Presentasi klinis ISK bawah tergantung dari gender; mau yang lengkap.. neee

  1. Perempuan

  • Sistitis, sistitis adalah presentasi klinis infeksi kandung kemih disertai bakteriuria bermakna.
  • Sindrom uretra akut (SUA). Sindrom uretra akut adalah presentasi klinis sistitis baterialis. Penelitian terbaru disebabkan oleh mikroorganisme anaerob.
  1. Laki-laki

Presentasi ISK bawah pada laki-laki mungkin sistitis, prostatitis, epididimis dan uretritis.

Fator resiko ada UTI mencakup ketidakmampuan kandung kemih/kegagalan kandung kemih untuk mengosongkan isinya secara lengkap, penurunan mekanisme pertahanan alamiah dari pejamu, peralatan yang terpajan pada traktus urinarius, pasien diabetes sangat rentan UTI karena peningkatan kadar glukosa dalam urine menyebabkan suatu infeksi akibat lingkungan pada traktus urinarius. Kehamilan dan gangguan neurology juga meningkatkan resiko UTI karena kondisi ini menyebabkan pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap dan statis urine.

Infeksi traktus urinarius terutama berasal dari organisme pada feses yang naik dari parineum ke uretra dan kandung kemih serta menempel pada permukaan mukosa.

  1. I.        Infeksi traktus urinarius pada wanita

Wanita yang beresiko terkena infeksi kandung kemih karena uretra yang pendek dan serta anatomi yang dekat dengan vagina, kelenjar periuretral dan rectum. Organisme yang sering menyebabkan UTI pada wanita adalah organisme secara normal ditemukan dalam traktur gastrointestinal; escherichiacoli, stafilokokus saprofitrikus dan steptrokokus faecalis. Organisme lain yang bertanggung jawab dalam menyebabkan infeksi traktus urinarius mencakup proteus mirabialis satu/lebih spesies klesbiela, enterobakteri dan pseudomonas.

Tahap kritis utama patogenesis UTI pada wanita adalah kolonisasi bakteri dari salah satu organisme di atas pada uretra distal dan vagina, flora dan kemudian naik ke kandung kemih, tempat mikroorganisme ke traktus urinarius. Pelekatan bakteri cenderung tinggi pada tahap awal penyakit, fase tergantung estrogen pada siklus menstruasi, setelah hiperektomi total dan sering dengan proses penuaan, yang memperlihatkan bahwa status hormoon ikut berperan.

  1. II.        Infeksi traktus urinarius pada pria

UTI pada pria merupakan akibat dari menyebernya infeksi yang berasal dari uretra, seperti pada wanita juga. Namun demikian panjang uretra dan jauhnya jarak uretra dari rectum pada pria dan adanya bakterisidal dalam cairan prostatis, melindungi pria dari infeksi traktus urinarius akibatnya UTI pada pria jarang terjadi, hal ini mengindikasikan adanya abnormalitas fungsi dan traktus genitourinarius.

E. coli adalah organisme utama yang menyebabkan adanya UTI pada pria, banyak bakteri gram negatif lain seperti spesies proteus, menyebabkan infeksi yang menetap.

B.  Pengertian

ü  Urinarius Tractus Infection (UTI) adalah suatu keadaan adanya infasi mikoorganisme pada saluran kemih. (Agus Tessy, 2001)

ü  Urinarius Tractus Infection (UTI) adalah suatu keadaan adanya infeksi bakteri pada saluran kemih. (Enggram, Barbara, 1998)

ü  Urinarius Tactus Infection (UTI) adalah infeksi saluran kemih pada bagian tertentu dari saluran perkemihan yang disebabkan oleh bakteri terutama scherichia coli. (Susan Martin Tucker, dkk, 1998)

C.  Etiologi

  1. Jenis-jenis mikroorganisme yang menyebabkan UTI, antara lain:
    1. Escherichia Coli: 90% penyebab UTI uncomplicated (simple)
    2. b. Pseudomonas, Proteus, Klebsiella: penyebab UTI complicated
    3. Enterobacter, staphylococcus epidemidis, enterococci, dan lain-lain.
  1. Prevalensi penyebab UTI pada usia lanjut, antara lain:
    1. Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan kandung kemih yang kurang efektif
    2. Mobilitas menurun
    3. Nutrisi yang sering kurang baik
    4. Sistem imunitas menurun, baik seluler maupun humoral
    5. Adanya hambatan pada aliran urin
    6. Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat

D.  Patofisiologi

Urinarius Tractus Infection (UTI) disebabkan oleh adanya mikroorganisme patogenik dalam traktus urinarius. Mikroorganisme ini masuk melalui: kontak langsung dari tempat infeksi terdekat, hematogen, limfogen. Ada dua jalur utama terjadinya UTI, asending dan hematogen.

Secara asending yaitu:

  • Masuknya mikroorganisme dalam kandung kemih, antara lain: faktor anatomi dimana pada wanita memiliki uretra yang lebih pendek daripada laki-laki sehingga insiden terjadinya UTI lebih tinggi, faktor tekanan urin saat miksi, kontaminasi fekal, pemasangan alat kedalam traktus urinarius (pemeriksaan sistoskopis, pemakain kateter), adanya dekubitus yang terinfeksi
  • Naiknya bakteri dari kandung kemih ke ginjal

Secara hematogen yaitu: sering terjadi pada psien yang sistem imunnya rendah sehingga mempermudah penyebaran infeksi secara hematogen ada beberapa hal yang mempengaruhi struktur dan fungsi ginjal sehingga mempermudah penyebaran hematogen, yaitu: adanya bendungan total urine yang mengakibatkan distensi kandung kemih, bendungan intrarenal akibat jaringan parut, dan lain-lain.

Pada usia lanjut terjadiny UTI ini sering disebabkan karena adanya:

  • Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap atau kurang efektif
  • Mobilitas menurun
  • Nutrisi yang sering kurang baik
  • Sistem imunitas yang menurun
  • Adanya hambatan pada saluran urine
  • Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat

Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat tersebut mengakibatkan distensi berlebihan sehingga menimbulkan nyeri, keadaan ini mengakibatkan penurunan resistensi terhadap invasi bakteri dan residu kemih menjadi media pertumbuhan bakteri yang selanjutnya akan mengakibatkan gangguan fungsi ginjal sendiri, kemudian keadaan ini secara hematogen menyebar ke seluruh traktur urinarius. Selain itu, beberapa hal yang menjadi predisposisi UTI, antara lain: adanya obstruksi aliran kemih proksimal yang mengakibatkan penimbunan cairan bertekanan dalam pelvis ginjal dan ureter yang disebut sebagai hidronefroses. Penyebab umum obstruksi adalah: jaringan parut ginjal, batu, neoplasma dan hipertrofi prostat yang sering ditemukan pada laki-laki diatas usia 60 tahun.

Patoflow

Invasi                           bakteri infeksi ginjal                            diferensiasi sel

Asending                                             hematogen

Kontaminasi langsung                             sistem imun rendah

dari fekal, pemasangan

alat dalam traktus

Gangguan struktur dan

fungsi ginjal

infeksi (inflamasi)

ada sisa urine,motilitas

menurun,obstruksi saluran

urine,gangguan status

metabolisme

uretritis sistisis pielonefritis

E.  Manifestasi Klinis

Tanda dan gejala UTI pada bagian bawah (sistitis):

  • Nyeri yang sering dan rasa ketika berkemih
  • Spasme pada area kandung kemih dan suprapubis
  • Hematuria
  • Nyeri punggung dapat terjadi

Tanda dan gejala UTI bagian atas (pielonefritis)

  • Demam
  • Menggigil
  • Myeri panggul dan pinggang
  • Nyeri ketika berkemih
  • Malaise
  • Pusing
  • Mual dan muntah
  1. Komplikasi
  1. Pembentukan abses ginjal atau parirenal
  2. Gagal ginjal

G.  Pemeriksaan penunjang

  1. Urinalisis
    1. Leukosuria atau piuria: merupakan salah satu petunjuk penting adanya UTI. Leukosuria positif bila terdapat lebih dari 5 leukosit/lapang pandang besar (LPB) sediment air kemih
    2. Hematuria: hematuria positif bila terdapat 5-10 eritrosit/LPB sedimen air kemih. Hematuria disebabkan oleh berbagai keadaan patologis Baik berupa  kerusakan glomerulus ataupun urolitiasis.
    3. Bakteriologis
      1. Mikroskopis
      2. Biakan bakteri
      3. Kultur urin untuk mengidentifikasi adanya organisme spesifik
      4. Hitung koloni: hitung koloni sekitar 100.000 koloni/ml urine dari urine tampung aliran tengah atau dari specimen dalam kateter dianggap sebagai kriteria utama adanya infeksi
        1. Metode tes
          1. Tes dipstick multistrip untuk WBC (tes esterase lekosit) dan nitrit (tes Griess untuk pengurangan nitrat). Tes esterase lekosit positif: maka pasien mengalami piuria. Tes pengurangan nitrat, Griess positif jika terdapat bakteri yang mengurangi nitrat urin normal menjadi nitrat.
          2. Tes penyakit menular seksual (PMS): Uretritia akut akibat organisme menular secara seksual (misal, klamidia trakomatis, neissera gonorrhoeae, herpes simplek)
          3. Tes-tes tambahan: Urogram intravena (IVU), Pielografi (IVP), msistografi, dan ultrasonografi juga dapat dilakukan untuk menentukan apakah infeksi akibat dari abnormalitas traktus urinarius, adanya batu, massa renal atau abses, hodronerosis atau hiperplasie prostat. Urogram IV atau evaluasi ultrasonic, sistoskopi dan prosedur urodinamik dapat dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab kambuhnya infeksi yang resisten.

H.  Penatalaksanaan

Penanganan UTI yang ideal adalah agens antibacterial yang secara efektif menghilangkan bakteri dari traktus urinarius dengan efek minimal terhadap flora fekal dan vagina. Terapi UTI pada usia lanjut dibedakan atas:

Terapi antibiotika dosis tunggal

Terapi antibiotika konvensional: 5-14 hari

Terapi antibiotika jangka lama: 4-6 minggu

Terapi dosis rendah untuk supresi

Pemakaian antimicrobial jangka panjang menurunkan resiko kekambuhan infeksi. Jika kekambuhan disebabkan oleh bakteri persisten di awal infeksi, faktor kausatif (misal, batu, abses), jika muncul salah satu, harus segera ditangani. Setelah penanganan dan sterilisasi urin, terapi preventif dosis rendah. Penggunaan medikasi yang umum mencakup: sulfisoxazole (gastrisin), trimethoprim/sulfamethoxazole (TMP/SMZ, bactrim, septra), kadang ampicilin atau amoksilin digunakan, tetapi E. Coli telah resisten terhadap bakteri ini. Pyridium, suatu analgesic urinarius juga dapat digunakan untuk mengurangi ketidaknyamanan akibat infeksi.

Pemakaian obat pada usia lanjut perlu dipikirkan kemungkinan adanya:

Gangguan absorbsi dalam alat pencernaan

Interansi obat

Efek samping obat

Gangguan akumulasi obat terutama obat-obat yang ekskresinya melalui ginjal

Resiko pemberian obat pada usia lanjut dalam kaitannya denga faal ginjal:

Efek nefrotosik obat

Efek toksisitas obat

  1. Asuhan Keperawatan
  1. a. Pengkajian

Dalam pengkajian pada klien UTI menggunakan pendekatan bersifat menyeluruh, yaitu:

Data biologis meliputi:

  • Identitas klien
  • Identitas penanggung

Riwayat kesehatan:

  • Riwayat infeksi saluran kemih
  • Riwayat pernah menderita batu ginjal
  • Riwayat penyakit DM, jantung

Pengkajian fisik:

  • Palpasi kandung kemih
  • Inspeksi daerah meatus
  • Pengkajian warna, jumlah, bau dan kejernihan urine
  • Pengkajian pada costovertebralis

Riwayat psikososial:

  • Usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan
  • Persepsi terhadap kondisi penyakit
  • Mekanisme koping dan sistem pendukung
  • Pengkajian pengetahuan klien dan keluarga
  • Pemahaman tentang penyebab/perjalanan penyakit
  • Pemahaman tentang pencegahan, perawatan dan terapi medis
  1. b. Diagnosa Keperawatan

Dx I: Infeksi b.d adanya bakteri pada saluran kemih

Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam pasien memperlihatkan tidak adanya tanda-tanda infeksi

K.H:

ü Tanda vital dalam batas normal

ü Nilai kultur urine negatif

ü Urine berwarna bening dan tidak bau

Intervensi:

ü Kaji suhu tubuh pasien setiap 4 jam dan laporkan jika suhu diatas 38,50 C

ü Catat karakteristik urine

ü Anjurkan pasien untuk minum 2-3 liter jika tidak ada kontra indikasi

ü Monitor pemeriksaan ulang urine kultur dan sensitivitas untuk menentukan respon terapi

ü Anjurkan pasien untuk mengosongkan kandung kemih secara komplit setiap kali kemih

ü Berikan perawatan perineal, pertahankan agar tetap bersih dan kering

Rasional:

ü Tanda vital menandakan adanya perubahan di dalam tubuh

ü Untuk mengetahui/identifikasi indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang di harapkan

ü Untuk mencegah stasis urine

ü Mengetahui seberapa jauh efek pengobatan terhadap keadaan penderita

ü Untuk mencegah adanya distensi kandung kemih infeksi uretra

ü Untuk menjaga kebersihan dan menghindari bakteri yang membuat infeksi uretra

Dx II: Perubahan pola eliminasi (disuria, dorongan, frekuensi, dan atau nokturia) b.d Urinarius Tractus Infection (UTI)

Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam klien dapat mempertahankan pola eliminasi secara adekuat

K.H:

ü Klien dapat berkemih setiap 3 jam

ü Klien tidak kesulitan pada saat berkemih

ü Klien dapat BAK dengan berkemih

Intervensi:

ü Ukur dan catat urine setiap kali berkemih

ü Anjurkan untuk berkemih setiap 2-3 jam

ü Palpasi kandung kemih tiap 4 jam

ü Bantu klien ke kamar kecil, memakai pispot/urinal

ü Bantu klien menndapatkan posisi berkemih yang nyaman

Rasional:

ü Untuk mengetahui adanya perubahan warna dan untuk mengetahui input/ out put

ü Untuk mencegah terjadinya penumpukan urine dalam vesika urinaria

ü Untuk mengetahui adanya distensi kandung kemih

ü Untuk memudahkan klien di dalam berkemih

ü Supaya klien tidak sukar untuk berkemih

Dx III: Nyeri b.d Urinarius Tractus Infection (UTI)

Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam klien merasa nyaman dan nyerinya berkurang

K.H:

ü Klien mengatakan/tidak ada keluhan nyeri pada saat berkemih

ü Kandung kemih tidak tegang

ü Klien nampak tenang

ü Ekspresi wajah tenang

Intervensi:

ü Kaji intensitas, lokasi, faktor yang memperberat atau meringankan nyeri

ü Berikan waktu istirahat yang cukup dan tingkat aktivitas yang dapat di toleran

ü Anjurkan minum banyak 2-3 liter jika tidak ada kontra indikasi

ü Berikan obat analgetik sesuai dengan program terapi

Rasional:

ü Rasa sakit yang hebat menandakan adanya infeksi

ü Klien dapat istirahat dengan tenang dan dapat merilekskan otot-otot

ü Untuk membantu klien dalam berkemih

ü Analgetik memblok lintasan nyeri

Dx IV: Kurang pengetahuan b.d kurangnya informasi tentang proses penyakit,      metode pencegahan, dan instruksi perawatan di rumah

Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan klien tidak memperlihatkan tanda-tanda gelisah

K.H:

ü Klien tidak gelisah

ü Klien tenang

Intervensi:

ü Kaji tingkat kecemasan

ü Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya

ü Beri support pada klien

ü Beri penjelasan tentang penyakitnya

Rasional:

ü Untuk mengetahui berat ringannya kecemasan klien

ü Agar klien mempunyai semangat dan mau empati terhadap perawatan dan pengobatan

ü Agar klien kembali menyerahkan sepenuhnya kepada tuhan YME. beri support pada klien

  1. c. Evaluasi

Pada tahap yang perlu dievaluasi pada klien dengan UTI adalah, mengacu pada tujuan yang hendak dicapai yakni  terdapat:

ü Nyeri yang menetap atau bertambah

ü Perubahan warna urine

ü Pola berkemih berubah, berkemih sering dan sedikit-sedikit, perasaan ingin kencing, menetes setelah berkemih

DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marilyn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Alih Bahasa: I Made Karisa, Ni made Sumarwati. Edisi: 3. Jakarta: EGC.

Smeltzer, Suzane C. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddart. Alih Bahasa: Agung Waluyo. Edisi: 8. Jakarta: EGC.

Nugroho, Wahyudi. (2000). Keperawatan Gerontik. Edisi: 2. Jakarta: EGC.

Tessy Agus, Ardaya, Suwanto. (2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Infeksi Saluran Kemih. Edisi: 3. Jakarta: FKUI.

Price, Sylvia Andrson. (1995). Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit: pathophysiologi clinical concept of disease processes. Alih Bahasa: Peter Anugrah. Edisi: 4. Jakarta: EGC.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arsip

  • Top Rated

  • _wElLcOMe mOnSTer_

    ceyeeemmmm

    Thank's yAa dAh lIAt-lIAt... JanGAn LuPA cOmenTNnya yAAA...

  • tuker link

    Link to us, we did link you back :

    Kolom blog tutorial

  • Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

    Bergabunglah dengan 2 pengikut lainnya

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: